Follow Me

Home Informasi Berita Berbeda, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Kenakan Almamater Saat Ujian Akhir Semester
Berbeda, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Kenakan Almamater Saat Ujian Akhir Semester PDF Print E-mail
Written by wahyu puspita sari   
Saturday, 17 June 2017 12:25

 

 

Kebijakan mengenai seragam saat ujian ini kembali menuai pro dan kontra di kalangan mahasiswa. Berbagai ekspresi penolakan mahasiswa pun hadir di tengah pelaksanaan ujian, mulai dari membuat selebaran, poster, hingga audiensi. Salah satu fakultas yang melakukan audiensi terkait kebijakan seragam saat Ujian Akhir Semester (UAS) kali ini adalah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliik (FISIP). Hasil dari audiensi tersebut di antaranya yakni penggunaan pakaian bebas rapi dan beralmamater pada Rabu (7/06).

 

 

Wakil Dekan (Wadek) III FISIP, Saifuddin Zuhri, menjelaskan bahwa hal ini dilakukan karena organisasi mahasiswa (Ormawa) menginginkan menggunakan almamater sebagai pakaian kebesaran dari UPN pada saat ujian. Selain itu, tidak semua mahasiswa memiliki pakaian putih yang cukup.

 

“Jika memang BEM menginginkan hal tersebut menjadi peraturan yang kontinu dari universitas, maka kita akan mengizini mereka agar menyampaikan aspirasinya ke tingkat universitas, karena memakai almamater juga merupakan ciri khas identitas kampus kita,” jelas Wadek Bidang Kemahasiswaan di FISIP tersebut.

 

Dulu, saat Ujian Tengah Semester (UTS) di FISIP terdapat kebijakan sendiri, yaitu menggunakan pakaian putih hitam pada Senin-Selasa, Rabu-Kamis menggunakan batik, dan Jumat bebas rapi. Namun, terdapat kebijakan baru dari pihak rektorat yang menimbulkan keluhan, yakni mengenakan pakian putih-hitam pada Senin hingga Rabu, dan memakai atasan batik pada Kamis dan Jumat.

 

“BEM mencoba mewadahi untuk mengambil jalan tengah dengan mengaadakan audiensi dengan pihak lembaga, yaitu Wadek 1 dan Wadek 3. Dalam audiensi Wadek 1 menawarkan Senin Selasa hitam putih, Rabu beralmamater,“ jelas Maulana (HI/15), Wakil Presiden BEM FISIP.

 

Kebijkana seragam ini diterapkan guna menjadikan UPN memiliki ciri khas yang berbeda dengan kampus lainnya, yakni Kampus Bela Negara. Menurut keterangan Ramdan, Wakil Rektor I melalui sekertarisnya, bahwa universtitas yang membuat peraturan, akan tetapi fakultas yang melaksanakan kebijakan.

 

Faktanya, ketentuan pakaian UAS masih menimbulkan pro kontra di kalangan mahasiswa. Salah satu mahasiswa FISIP, Faidan (Adbis/16) mengungkapkan ketidaksetujuannya. “Kurang setuju kalau pakaian hitam putih, apalagi tiga hari, terlalu lama. Hitam putih kayak orang mau skripsi aja. Ujian ya pakai almamater, baju rapi aja udah cukup”.

 

Bena (HI/15) juga mengatakan bahwa ia kurang setuju karena kebijakan fakultas kurang cocok diterapkan di kampus dengan beralasan demi disiplin dan rapi. Hal ini justru menimbulkan dampak psikologis, mereka merasa seperti dikekang.

 

“Instruksi dari BEM hasil audiensi Rabu menggunakan almamater, mendinganlah sekarang. Tapi, menurutku sama aja kalau ingin memberikan identitas khas UPN mending dengan lebih prestasinya, kualitas pendidik dari pada memperbaiki kostum ujian,” jelas salah satu mahasiswi Hubungan Internasional tersebut.

 

Berbeda dengan Hasan (Adne/15), ia mengungkapkan kesepakatannya dengan kebijakan terkait penyeragaman saat ujian. “Sebenarnya bagus, kalau dilihat di kampus lain juga begitu. Hitam putih juga merupakan pakaian yang harus dimiliki setiap mahasiswa, mau nggak mau,” ungkapnya.

 

Last Updated on Saturday, 17 June 2017 12:35
 

Add comment


Security code
Refresh

Search

Gallery Photo

Alexa Rank


feed-image Feed Entries


created by GIRI TARUNA.